Garis Lurus Merapi, Keraton dan Pantai Selatan

Jogja memang Istimewa, berbagai keunikan yang mengagumkan dapat ditemukan di kota gudeg ini. Mulai dari obyek wisata, budaya, hingga sejarah yang menarik untuk diikuti. Selain itu juga terdapat filosofi dari berbagai kebudayaan dan sejarah tersebut. Salah satu yang menjadikan Yogyakarta lebih unik dan istimewa adalah filosofi tentang Garis Lurus Merapi, Keraton dan Pantai Selatan. Memang unik, ternyata dilihat dari map/peta juga bisa dilihat jika Merapi, Keraton dan Pantai Selatan ini memang berada di satu garis lurus. Lalu apakah makna / filosofi dari Garis Lurus Merapi, Keraton dan Pantai Selatan?

Untuk masyarakat di Yogyakarta, Gunung Merapi, Laut Selatan dan Keraton Yogyakarta mengandung makna penting tersendiri. Kehidupan di dunia merupakan sebuah harmoni antara mikrokosmos (jagat cilik) dan makrokosmos (jagat gede). Keharmonisan itu harus dijaga satu sama lain, tidak boleh terjadi ketimpangan. Peran Gunung Merapi dan Laut Selatan ini dipercaya sebagai pusat kedudukan mikrokosmos (jagat cilik) tersebut. Sedangkan Keraton merupakan pusat makrokosmos (jagat gede). Merapi di utara dipercaya sebagai pusat raja jin dan Samudra Indonesia di selatan diyakini sebagai pusat tahta Ratu Kidul.

Puncak Merapi sebagai poros utara yang kemudian ke Laut Selatan melintasi Monumen Tugu kemudian melewati Jalan Malioboro. Dan dari Jalan Malioboro, garis kosmik Poros Utara-Selatan itu membentang ke Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta menuju Alun-Alun Selatan. Selanjutnya, garis itu melintas ke Bantul sebelum akhirnya menuju Laut Selatan yang dalam masyarakat Jawa diyakini di bawah kekuasaan Nyi Roro Kidul. Terdapat juga sebuah filosofi dari Garis Lurus Merapi, Keraton dan Pantai Selatan dimana garis lurus ini juga menggambarkan bahwa Gunung Merapi sebagai batas utara Yogyakarta, Pantai Selatan sebagai batas selatannya dan dengan Kraton sebagai Poros atau Pengaturnya.

Selain itu, untuk Tugu Jogja sendiri juga menjadi simbol 'manunggaling kawulo gusti' yang juga berarti bersatunya antara raja (golong) dan rakyat (gilig). Simbol ini juga dapat dilihat dari segi mistis yaitu persatuan antara khalik (Sang Pencipta) dan makhluk (ciptaan). Kemudian filosofi tentang keberadaan Keraton Yogyakarta yang berada dititik tengah antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, merupakan titik keseimbangan antara api dan air. Api yaitu dilambangkan dengan Gunung Merapi, sedangkan air yaitu dilambangkan dengan Laut selatan. 


EmoticonEmoticon