Mbah Tumirah Tetap Gigih Berjualan Kacang di Stasiun Tugu Yogyakarta

Stasiun Tugu Yogyakarta adalah salah satu stasiun yang ramai dan padat oleh pengunjung yang ingin memakai jasa kereta api dari Yogyakarta ataupun yang turun di Yogyakarta. Tidak ada pernah ada kata sepi di tempat ini. Berbagai aktivitas akan Anda temui mulai dari pedagang, ojek, taxi, parkir inap dan lain-lainya. Namun ada pemandangan ganjil di salah satu sudut pinggir pintu masuk stasiun. Seorang nenek yang sudah renta duduk dengan beralaskan selembar kain panjang dan sebuah payung yang disandarkan di sepeda motor yang dengan sabar menjajakan kacang kering di setiap harinya. Nama nenek ini adalah  "Mbah Tumirah", Umur 109 Tahun Mbah Tumirah Tetap Gigih Berjualan Kacang di Stasiun Tugu Yogyakarta. Benar-benar pemandangan yang memilukan sekaligus menjadi kisah inspiratif ketika kita melihatnya.

Setiap pagi Mbah Tumirah akan diantar cucunya ke Stasiun Tugu Yogyakarta dengan menggunakaan becak. Dibantunya cucunya tersebut, sebuah bakul berisi kacang rebus siap jual diturunkan. Selanjutnya Mbah Tumirah akan menunggu rejeki hinggi sore menjelang, itu sudah menjadi keseharian dari Mbah Tumirah. Harga kacang kering tersebut 5 ribu rupiah per bungkus. Dan laku atau tidak kacang yang dijualnya hari itu, Ia akan tetap akan pulang saat menjelang Maghrib dijemput cucunya.

Mbah Tumirah mengaku berjualan kacang di Stasiun Tugu sejak setahun lalu. Ia berjualan kacang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga mengisi harinya dengan kegiatan supaya tidak jenuh dirumah. "Usia saya 109 tahun, Suro besok 110 tahun. Dulu kan ada cucu saya, tapi sudah di Magelang. Di rumah sepi, ya sudah saya jualan. Saya juga tidak ingin merepotkan mereka," ucapnya. Mbah Tumirah juga mengatakan, ia membuat kacang kering itu dengan bantuan cucu dan cicitnya. Kegiatan itu dimulai pada pukul 06.00. Siangnya, ia membungkus kacang kering itu ke dalam plastik lalu diikat dengan karet gelang.

Yang sangat mengesankan dari Mbah Tumirah ini adalah, bahwa ia tidak begitu memikirkan hasil penjualan yang tidak pasti. "Yang penting disyukuri dan bisa untuk makan. Saya tidak mau merepotkan orang lain," ungkapnya. “Sehari dapatnya berapa? Ya cukup untuk makan, kalau kurang dicukup-cukupkan. Ngucap syukur, berapa saja yang laku itu rejeki dari Allah,” Tambahnya. Sikap gigih dan sabar mbah Tumirah ini hendaknya bisa membuat kita bercermin dan lebih bersukur dengan apa yang kita dapatkan. Dan untuk Anda yang sedang melewati area Stasiun Tugu Yogyakarta ini silahkan jika ingin berbagi dengan membeli kacang mbah Tumirah, sukur-sukur bisa Anda borong.


EmoticonEmoticon