Di tanah nusantara ini pada zaman dahulu telah berdiri banyak kerajaan-kerajaan yang besar dan megah. Salah satu peninggalan yang masih hidup sampai sekarang adalah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Yogyakarta)Sejarah dan Raja-raja Keraton Yogyakarta di mata masyarakat Jogja sendiri adalah sesuatu yang sangat dihormati dan selalu dijaga kelestariannya. 
Sejarah dan Raja-raja Keraton Yogyakarta
Tidak heran bila sampai saat ini nilai budaya di Yogyakarta masih sangat kental. Sejarah dan Raja-raja Keraton Yogyakarta masih berkaitan erat dengan tokoh-tokoh sebelum berdirinya Keraton Yogyakarta seperti Ki Ageng Pamanahan, Sutawijaya (Panembahan Senopati), Mas Jolang (Panembahan Seda ing Krapyak), Pangeran Arya Martapura, Raden Mas Rangsang / Prabu Pandita Hanyakrakusuma (Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman), Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum), Amangkurat II (Pendiri Kartasura), Amangkurat III, Pakubuwana I (Pangeran Puger), Amangkurat IV. 

Sebelum berdirinya Keraton Yogyakarta, berdirilah Mataram didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan. Tanah kekuasaan tersebut diberikan oleh Sultan Pajang pada tahun 1558 Masehi setelah Ki Ajeng Pamanahan berhasil mengalahkan musuhnya yaitu Aryo Penangsang. Sebuah keraton di daerah Kota Gede dibangun pada tahun 1577 oleh Ki Ageng Pamanahan sebagai pusat pemerintahan hingga akhirnya beliau mangkat pada tahun 1584 sebagai pengikut Sultan Pajang. Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat, pemerintahan Mataram diteruskan oleh puteranya yaitu Sutawijaya. Akan tetapi ternyata pengangkatan Sutawijaya sebagai penguasa baru Mataram adalah hal yang sangat fatal karena dia tidak mau tunduk kepada Sultan Pajang. Sutawijaya malah mempunyai keinginan untuk menghancurkan Kasultanan Pajang karena ingin memperluas wilayah kekuasaan Mataram.

Sultan Pajang akhirnya mengetahui niat Sutawijaya dan memutuskan menyerang Mataram pada tahun 1587. Namun tanpa diduga pasukan Sultan Pajang yang berupaya menyerang Mataram ini terkena dampak letusan Gunung Merapi yang begitu besar pada saat itu yang akhirnya menghancurkan seluruh pasukan Kesultanan Pajang dan Sutawijaya beserta pasukan Mataram-pun selamat. Satu tahun kemudian Mataram menjadi sebuah kerajaan & Sutawijaya menobatkan dirinya sebagai Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati, Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama yang berarti Panglima Perang & Ulama Pengatur Kehidupan Beragama. Dan Kerajaan Mataram sejak saat itu mulai berkembang pesat menjadi sebuah kerajaan yang besar & menjadi penguasa Pulau Jawa yang besar dan disegani. Setelah mangkatnya Panembahan Senopati pada tahun 1601 Raja Mataram digantikan oleh  puteranya yang bernama Mas Jolang dikenal juga dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak. Pada tahun 1613 Mas Jolang (Panembahan Seda ing Krapyak) wafat dan digantikan lagi oleh anaknya yaitu Pangeran Arya Martapura & dilanjutkan oleh kakaknya yakni Raden Mas Rangsang yang juga lebih dikenal sebagai Prabu Pandita Hanyakrakusuma, dan bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman.

Pada masa Kekuasaan Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung inilah kerajaan Mataram berada pada puncak kejayaannya & berkembang dengan sangat pesat disegala bidang. Kerajaan Mataram semakin kuat dan makmur sampai akhirnya Sultan Agung digantikan oleh puteranya yaitu Amangkurat I (Sinuhun Tegal Arum) pada tahun 1645-1677. Dilanjutkan oleh Amangkurat II (Pendiri Kartasura) 1680-1702, Amangkurat III (Dibuang VOC ke Srilangka), Pakubuwana I (Pernah memerangi dua raja sebelumnya, juga dikenal dengan nama Pangeran Puger) 1705-1719 dan Amangkurat IV (Leluhur raja-raja Surakarta dan Yogyakarta)1719-1726

Masa kejayaan Kerajaan Mataram akhirnya mengalami kemunduran karena konflik perebutan kekuasaan dari dalam maupun luar istana yang akhirnya meruntuhkan Kerajaan Mataram itu sendiri. Hal inilah yang akhirnya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh  VOC pada masa penjajahan Belanda. Perebutan kekuasaan di Kerajaan Mataram ini berkahir dengan adanya Perjanjian Giyanti pada bulan Februari di tahun 1755. Pada Perjanjian Giyanti ini memutuskan untuk membagi kekuasan Kerajaan Mataram menjadi 2 yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Dan dalam perjanjian itu juga menetapkan Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan di Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Kira-kira satu bulan setelah terjadinya Perjanjian Giyanti tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono I yang pada saat itu tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang mendirikan sebuah keraton di pusat kota Yogyakarta yang kita lihat sekarang ini sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Kontrak politik terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47.

Berikut ini adalah silsilah Raja-raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (Keraton Yogyakarta):

Sultan Hamengkubuwana I 
(Pemerintahan: tahun1755 - 1792)
Sultan Hamengkubuwana II 

(Pemerintahan tiga periode: tahun 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828)
Sultan Hamengkubuwana III 

(Pemerintahan dua periode: tahun 1810 - 1811 dan 1812 - 1814)
Sultan Hamengkubuwana IV 

(Pemerintahan:  tahun 1814 - 1822)
Sultan Hamengkubuwana V 

(Pemerintahan: 19 Desember 1823 - 17 Agustus 1826, dan 17 Januari 1828 - 5 Juni 1855)
Sultan Hamengkubuwana VI 

(Pemerintahan:  tahun 1855 – 1877)
Sultan Hamengkubuwana VII 

(Pemerintahan: tahun 1877 – 1920)
Sultan Hamengkubuwana VIII 

(Pemerintahan: tahun 1921-1939)
Sultan Hamengkubuwana IX 

(Pemerintahan: tahun 1940-1988)
Sultan Hamengkubuwana X 

(Pemerintahan: tahun 1989 - sekarang)


EmoticonEmoticon