Yogyakarta Tempo Dulu - Jogja Tempo Doeloe. Jika kita flashback ke jaman dulu mungkin untuk saat ini kita hanya bisa melihat sesuatu dari segi yang unik tetapi tidak bisa merasakan apa yang orang-orang pada waktu itu rasakan. Bagaimanapun juga mereka memiliki jasa sehingga kita bisa memiliki kehidupan seperti saat ini. 

Yogyakarta Tempo Dulu - Jogja Tempo Doeloe

Dengan mengenal sejarah, kita akan lebih menghargai dan mencintai Daerah atau Negara tempat kita berada saat ini karena kita tau bagaimana perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan pada masa itu. Di Yogyakarta (Jogja) sendiri memiliki sejarah yang sangat menarik untuk kita pelajari. Juga dengan budaya yang kental dan masih bertahan sampai sekarang dan membuat Jogja semakin Istimewa dengan keanekaragamannya. 

Sejarah singkat kota Jogja:

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri pada tahun 1755 yang didirikan didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman, berdiri sejak 1813 yang didirikan oleh Pangeran Notokusumo, (saudara Sultan Hamengku Buwono II ) dan kemudian bergelar Adipati Paku Alam I. Kasultanan dan Pakualaman telah diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941 No. 47 dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 No. 577. 

Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan yang paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam epos Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta biasa diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa). 
Dan pada waktu Proklamasi Kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII mengetok kawat kepada Presiden RI, menyatakan bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman menjadi salah satu bagian wilayah negara Republik Indonesia, dan bergabung menjadi satu mewujudkan satu kesatuan Daerah Istimewa Yogyakarta.


EmoticonEmoticon